B. Indonesia

Pertanyaan

1.buat lah cerpen...temanya apa saja..!

2 Jawaban

  • Sahabat Terindah
    Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas empat. Di sekolah aku mempunyai dua orang teman yang menurutku berbeda dengan teman-temanku lainnya, ada yang nama nya Eji tentunya dia perempuan, dia baik, lucu, sangat sabar, walaupun terkadang suka melakukan hal yang menjengkelkan. Dan satu lagi namanya Anggie dia pintar, cantik, tetapi sayangnya bertubuh gemuk alias gendut. Kami selalu bertiga apapun kegiatan itu dan kemanapun kita pergi, aku nyaman bisa selalu dekat mereka. Merekalah yang membuat aku mengenal apalah artinya hidup.Waktu itu kami bertiga sedang jalan-jalan, tepatnya di hari jum’at. Ada lelaki tampan bernama Iwan yang selama ini dikagumi oleh temanku Anggi, dia melihat lelaki tersebut dan sedikit takjub.“Rik, itu iwan kan? Mau kemana dia? Ganteng banget!” kata anggi sambil memandang iwan.
    “Iya itu iwan nggi. Coba aja kamu ikuti kemana dia pergi” kataku menyarankan.
    “Eh, jangan rik! Nanti disangka iwan si anggi cewek murahan yang mau ngejar-ngejar dia, ih!” kata eji sambil cetus dan anggi pun mengangguk benar.
    “Tapi kalau seperti ini terus mau sampe kapan anggi kagum di belakang sepengetahuan dia?” kataku nada pelan.
    Belum lama kita bercakap-cakap cowok yang bernama Iwan sudah hilang entah kemana. Aku dan eji ikut panik. Dan kami bertiga akhirnya sepakat mencari Iwan dengan niatnya. Sesampai di tempat jauh tidak berhasil juga menemui Iwan. Anggi sedikit kesal dan sedih tetapi adanya kita berdua, kita bisa menghibur Anggi agar bisa bersenang-senang ria kembali.Seterusnya kami bertiga seperti ini sampai kelas enam. Tiga tahun mendatang tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan kami bertiga mempunyai ide kreatif yaitu mengadakan hari perpisahan dengan sebuah lagu berjudul ‘Merindukanmu’ dari band D’masiv hehehe… sehabis kita nyanyi bareng-bareng tak sadar air mataku sudah deras di pipi, karena mengingatkan masa lalu yang begitu indah bersama Eji dan Anggi.“Nggi… Ji… lulus dari sd kalian jangan sombong ya sama aku. Tetap saling jaga komunikasi yang baik. Aku sayang kalian berdua” kataku mengusap air mata.
    “Kira-kira ada tidak ya teman sebaik kalian, aku takut di luar sana banyak teman yang palsu” kata eji bergegas.
    “Tentu tidak ji kamu harus percaya diri dalam hal pergaulan asal bisa jaga diri juga ya. Ingat, kita bukan teman lagi tetapi SAHABAT SEJATI” kata anggi tersenyum kemudian kami berpelukan.
    Sudah lulus-lulusan dan memasuki jenjang sekolah baru kami bertiga sudah terpisah. Eji sepakat ingin melanjutkan di pesantren dan Anggi di sekolah lain tidak bersama denganku. Semenjak smp kita bertiga sudah jarang sekali berkomunikasi apalagi bertemu bermain bersama. Entah, mengapa harus ada perubahan separah itu. Sesungguhnya aku merindukan hal terindah di masa-masa sd ku bersama kalian.
  • Kisah Seorang Penjual Koran

    Di ufuk timur, matahari belum tampak. Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah jalan yang masih lengang. Siapakah gerangan anak itu? Ia adalah seorang penjual Koran, yang bernama Doni.

    Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai di tempat agen koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Doni?” tanya Bang Karno. “Biasa saja.”jawab Doni. Bang Karno mengambil sejumlah koran dan majalah yang biasa dibawa Doni untuk langganannya. Setelah selesai, ia pun berangkat.

    Ia mendatangi pelanggan-pelanggan setianya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Doni setiap harinya. Menyampaikan koran kepada para pelanggannya. Semua itu dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab.

    Ketika Doni sedang mengacu sepedanya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Doni jadi gemetaran. Benda apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa ketakutan karena akhir-akhir ini sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Doni khawatir benda itu adalah bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba membuka bungkusan tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kardus. “Wah, apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Doni segera membuka bungkusan dengan hati-hati. Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat kalung emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati. “Milik siapa, ya?” Doni membolak-balik cincin dan kalung yang ada di dalam kardus. Ia makin terperanjat lagi karena ada kartu kredit di dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak Alif. Kasihan sekali Pak Alif , rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.

    Apa yang diperkirakan Doni itu memamg benar. Rumah Pak Alif telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri tersebut terburu-buru, bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya terjatuh. Doni dengan segera memberitahukan Pak Alif. Ia menceritakan apa yang terjadi dan ia temukan. Betapa senangnya Pak Alif karena perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia sangat bersyukur, perhiasan itu jatuh ke tangan orang yang jujur. Sebagai ucapan terima kasihnya, Pak Alif memberikan modal kepada Doni untuk membuka kios di rumahnya. Kini Doni tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk menjajakan koran. Ia cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan untuk mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Doni digantikan oleh saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari sebuah kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.

Pertanyaan Lainnya